Main menu:
SUCCESS ARTICLES
Dikutip dari buku “BUSINESS DOCTOR”, karya Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHT
Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis, kita harus melakukan Value Analysis (AVA), yaitu menganalisa setiap aktivitas atau proses kerja dalam relevansinya dengan pencapaian tujuan bisnis; agar jika ada proses yang tidak kondusif, bisa segera kita ubah menjadi baik; proses yang lamban, kita jadikan cepat; dan proses atau aktivitas apa saja yang tidak berguna, akan kita entaskan., tujuan AVA bukanlah untuk memperbaiki proses, melainkan untuk memastikan bahwa setiap proses dan aktivitas adalah berguna secara optimal terhadap pencapaian profitabilitas dan pertumbuhan bisnis. tidak, maka tidak ada pilihan lain dan tidak ada kompromi, harus dienyahkan!
siapkan dan pelajari semua instrumen dibawah ini versus target bisnis yang telah Anda miliki. Pikirkanlah dan pandanglah dengan cara baru yang Meritokratis, apakah semua proses itu telah kondusif untuk mencapai target karakteristik bisnis yang kompetitif seperti kecepat-tanggapan terhadap perubahan, konsistensi kualitas, kepuasan pelanggan, inovasi dan perbaikan berkesinambungan, operasi bisnis berbiaya rendah, dan UUD (ujung ujungnya duit, atau profitabilitas) yang memuaskan:
Operating Procedure (SOP) vs Realisasi.Point ini sangat penting untuk disikapi dengan jujur dan pikiran waras, karena banyak orang tidak bisa membedakan mana yang seyogyanya dan mana yang fakta lapangan. Memiliki SOP yang bagus tidak berarti kinerja bisnis anda otomatis bagus, jika SOP itu tidak dilaksanakan secara konsisten dan tepat. Sama seperti mempunyai akreditasi (sertifikat) ISO tidaklah berarti kualitas produk Anda pasti terjamin, jika seluruh karyawan Anda tidak konsekwen dan terus menerus beroperasi sesuai panduan.
bisnis.Seperti yang saya bahas sebelumnya bahwa sebagai 'orang dalam', Anda sulit mengenali perbedaan atau ketidakpatutan operasional bisnis, karena menurut Anda, semuanya pasti masih berjalan baik-baik saja, sampai ada 'pikiran asing' yang melihat kejanggalan atau inefisiensi pada proses bisnis Anda. Saya menyampaikan pengalaman saya disebuah grup manufaktur besar yang telah menjalankan proses bisnis tertentu selama belasan tahun: Biasanya, untuk produknya yang finisheddikerjakan diruangan A, kemudian dimasukan kekontainer sementara untuk dipindahkan keruangan B, dan disana dikemas menjadi goodsSetelah saya cerahkan dan beritahu karyawan mereka agar berani berpikir beda didalam melihat proses bisnis mereka agar menjadi lebih cepat, lebih bagus dan atau lebih murah, mereka bisa melakukan terobosan pada cara bekerja diatas: mengapa mereka memindahkan proses finishing kegedung sebelah adalah karena menurut anggapan mereka ruangan A telah padat (tidak ada lagi), padahal jika diamati sesungguhnya masih ada cukup tempat, namun yang dipenuhi oleh banyak kotak kardus berisi produk retur, produk lewat model, produk cacat, dan produk , sehingga terkesan ruangan sempit. Setelah mengetahui akan hal itu, mereka mengusulkan agar semua produk yang masih bisa berfungsi baik, dijadikan bonus bagi penjualan produk baru (misalnya: membeli produk model baru A, mendapat bonus produk model lama B); atau dijual kepada karyawan dengan harga murah dan atau angsuran (dengan jumlah karyawan grup yang mencapai belasan ribu orang, bukanlah hal sulit untuk menghabiskan stock); dan bagi produk yang tidak bisa berfungsi baik akan didaur ulang komponen plastiknya setelah melepaskan komponen elektroniknya untuk dipakai kepada produk jenis lain; sedangkan produk dipindahkan keruangan tersendiri yang lebih kecil dan dapat dilihat umum, sebagai koleksi dan pajangan, serta media promosi. demikian, mereka mendapatkan tambahan ruangan yang cukup besar untuk menyelesaikan pekerjaan dalam satu ruangan yang sama. Untuk mengatasi agar producttidak tercemar debu, maka mereka menyekatnya menjadi dua ruangan dengan board, dan menambahkan ban berjalan dengan menggunakan rubber gateseukuran produk. Hasilnya: mereka bisa bekerja dengan hasil lebih banyak dan lebih cepat, dengan jumlah orang dan tempat yang lebih sedikit. saya: mengapakah untuk hal yang nampaknya begitu sepele, tidak terpikirkan oleh mereka selama belasan tahun, dan menunggu saya datang untuk mencerahkan pikiran mereka?bukan karena mereka bodoh, melainkan karena sudah terkungkung pola pikir dan pola kerjanya dalam kebiasaan lama dan rutinitas, sehingga mereka tidak sensitif lagi terhadap kejanggalan. Mereka tidak merasa ada hal yang aneh, karena bukankah hal itu sudah dilakukan selama berbelas tahun? Kecintaan akan quoseperti itulah yang memberangus inisiatif dan inovasi. Diperlukan Provokingdan pencerahan untuk bisa melakukan !
penjualan.Hampir sama dengan proses bisnis secara keseluruhan, dalam proses penjualan Anda pun harus berani berpikir beda dari kebiasaan lama. Anda harus mempercepat dan memperpendek alur kerja, agar pesanan penjualan bisa segera dikirim dengan cepat, tanpa meningkatkan resiko kesalahan dan atau debtbagi penjualan kredit. Pergunakan sistem informasi manajemen penjualan dan area networkjika diperlukan, untuk memastikan bahwa semua proses berjalan tepat dan cepat, dari pesanan penjualan sampai kembali menjadi tunai. Perlu diperhatikan bahwa kehati-hatian tidak boleh mengorbankan kecepat-tepatan pelayanan pelanggan; demikian pula sebaliknya. Dan dengan sedikit sense, Anda bisa mendapatkan keduanya.
pekerjaan setiap karyawan.Saya mengamati bahwa banyak sekali Descriptionsyang sudah tidak lagi tepat manfaat namun tetap dijadikan acuan oleh banyak perusahaan. Anda harus memastikan bahwa Job-Des semua karyawan Anda adalah to-date, dan bukan hasil warisan 'nenek moyang' manager personalia yang dahulu dan diturunkan kepada manager personalia yang sekarang. kedua ialah menekankan kepada azas manfaat atau Manajemen Meritokratis pada uraian tugas karyawan, atau yang saya istilahkan sebagai Effectiveness Descriptions, yakni uraian pekerjaan yang berorientasi kepada pencapaian hasil kerja, dan bukan semata-mata menyelesaikan tugas; bahwa setiap orang disetiap posisi mempunyai target yang bersifat kualitatif dan atau kuantitatif, sehingga kelak dalam acara Evaluasi Kinerja dapat dinilai secara obyektif. Hal ketiga ialah memberanikan setiap karyawan untuk memberikan saran revisi terhadap Descriptionsnya jika suatu hari mereka menemukan cara bekerja yang lebih efektif, lebih efisien dan lebih bermanfaat. Juga beranikan mereka untuk berpikir sebelum bekerja, dan melakukan perubahan dimana perlu untuk meningkatkan produktivitas mereka dengan waktu yang lebih sedikit
sistem remunerasi dan skema pemberian insentif karyawan.Mengingat bahwa uang adalah faktor vital dan dominan terhadap motivasi dan kinerja karyawan, maka kita perlu menyiasatinya dengan benar dan seksama. Saya melihat bahwa banyak perusahaan bisnis menerapkan sistem kompensasi yang tidak kondusif terhadap prestasi, seperti misalnya memberikan bonus dan peningkatan gaji yang rutin dan sama rata kepada setiap orang didalam perusahaan, tanpa perduli apakah seseorang berprestasi ataukah tidak; akibatnya bisa negatif, bahwa orang yang rajin akan merasa percuma mempertahankan kerajinan karena mendapatkan imbal balas yang sama dengan karyawan yang malas; dan karyawan marjinal atau yang malas tidak merasa perlu meningkatkan kinerjanya karena toh tetap mendapatkan imbal balas yang sama dengan rekan mereka yang nampak rajin. Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam memberikan insentif adalah, jangan hanya berfokus kepada karyawan bagian sales-marketing dan produksi saja, melainkan juga kepada karyawan bagian , sekalipun dengan persentase yang lebih kecil. Dengan demikian akan ditumbuhkan semangat kebersamaan, dan menghindari friksi internal akibat kecemburuan; demikian juga dengan karyawan yang memberikan effortakan mendapatkan rewards
rekrutmen dan pemutusan hubungan kerja.Seringkali turunnya kinerja bisnis disebabkan karena faktor SDM, yaitu seringnya karyawan disegala level keluar-masuk, sehingga perusahaan harus terus menerus merekrut dan melatih karyawan baru; yang bukan hanya menghamburkan biaya, waktu dan tenaga, melainkan juga menurunkan kinerja bisnis secara adekuat; karena karyawan baru memerlukan waktu orientasi kurang lebih sekitar 3 bulan sebelum mereka bisa mencapai produktivitas ideal. Kita harus mencari tahu dan menemukan kausa prima, mengapa terjadi hal seperti itu. Apakah karena sistem rekrutmen yang salah? Apakah karena sistem kompensasi yang tidak kompetitif? Apakah karena suasana kerja yang tidak menyenangkan? Apakah budaya dan prilaku karyawan lain yang buruk sehingga membuat karyawan tidak nyaman bekerja bersama? Semua itu sebenarnya bisa dicari tahu melalui 'exit interview', yaitu menanyakan secara pribadi kepada karyawan yang mengundurkan diri, agar mereka berbicara jujur tentang alasan sesungguhnya mereka berhenti bekerja. Hal lain yang penting adalah mengatur surat perjanjian kerja yang menyangkut pemutusan hubungan kerja, bagi karyawan yang tidak berprestasi dan atau berkelakuan buruk. Disaat seperti sekarang ini, dimana isu HAM dan hak pekerja sering dijadikan bahan provokasi massa, memecat karyawan menjadi hal yang , sehingga perlu diatur tatacara dan tatakrama perjanjian kerja oleh kedua belah pihak secara adil dan konsekwen.saya untuk merevolusi bisnis ialah: Rekrut dan bayarlah hanya sedikit orang yang handal dan profesional, sekalipun dengan remunerasi yang besar, dibandingkan dengan merekrut banyak orang marginal sekalipun dengan remunerasi yang murah-meriah. Karena, mengelola manusia itu jauh lebih dan memusingkan kepala, dibandingkan mengelola mesin; sehingga semakin sedikit akan semakin baik, selama outputmereka sama besar. lain: mengelola karyawan profesional yang dibayar mahal, jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengelola karyawan marginal yang dibayar murah; karena karyawan marginal tidak takut ditegur atau dipecat, karena mereka tahu, dimanapun mereka bekerja akan mendapat upah yang kurang lebih sama. Namun karyawan yang dibayar mahal, akan takut dan malu jika ditegur -apalagi dipecat-, karena sekeluarnya mereka dari perusahaan Anda, belum tentu akan mendapat bayaran setinggi yang mereka terima dari perusahaan Anda.
, setelah Anda mengumpulkan dan mempelajari semua data dari instrumen diatas, Anda perlu melakukan satu hal penting (key-point) yang akan menentukan apakah program revolusi kinerja bisnis Anda akan berhasil ataukah tidak, yakni:“Reprogramming business mindset”dari semua pemain bisnis (karyawan-pengusaha) diperusahaan Anda, dengan filosofi bisnis yang Meritokratis, yakni:Philosophy: “Profit is not everything, but the only thing. It's the sign of competence and usefulness. So, give me profit or go home!”, maksudnya: Agar semua karyawan mahfum bahwa tujuan investor mendirikan bisnis bukanlah karena mereka baik hati atau berjiwa sosial hendak menolong mengurangi jumlah pengangguran, melainkan agar uang mereka memberikan pengembalian investasi yang menguntungkan, bahkan lebih menguntungkan dibandingkan dengan alternatif investasi lainnya. Jadi, jika investor merekrut seorang pimpinan puncak profesional dan memberikan segala fasilitas dan remunerasi yang hebat, hal itu bukanlah karena investor sayang atau kagum terhadap Anda, melainkan mengharapkan (menuntut) bahwa apa yang telah diinvestasikan kedalam diri Anda bisa Anda kembalikan kepadanya berkali lipat berupa keuntungan dan deviden, serta pertumbuhan bisnisnya. Jika Anda gagal memenuhi harapan (tuntutan) itu, maka janganlah heran atau kaget jika suatu hari Anda diminta untuk 'mengangkat koper' Anda dan segera enyah dari perusahaannya. adalah satu-satunya parameter yang dan obyektif untuk menilai kinerja bisnis (dan pemimpin bisnis tentunya), apakah ia orang hebat ataukah payah. Jika bisnisnya terus merugi dan atau merosot pangsa pasarnya, maka bagi saya adalah jelas, bahwa pemimpin perusahaannya payah, tidak kreatif, tidak berani, tidak cerdas, dan atau kasarnya, tidak layak untuk memimpin perusahaan itu. Sebaliknya, jika perusahaannya terus maju dan profit, maka apapun kata orang -apakah itu nasib baik atau kebetulan-, saya menganggap bahwa ia adalah pemimpin bisnis yang hebat. Jadi, untuk merevolusi bisnis, beritahukan kepada semua karyawan perusahaan Anda, bahwa “Jadilah kontributor profit. Jadilah berguna bagi pencapaian tujuan perusahaan kita, karena jika tidak, you're not belong here anymore, go home!”
: Perolehan profit bisa dialokasikan untuk aktivitas sosial, dan bukan semata-mata untuk kemakmuran pemegang saham; namun azasnya ialah: 100% komitmen untuk mencapai profit terlebih dahulu, baru aktivitas sosial; bukan sebaliknya, agar pebisnis paham bahwa mereka sedang mengelola organisasi bisnis dan bukan organisasi sosial!
Objective: “Gaining progressive profit and growth by creating and sustaining delighted customer perpetually”, maksudnya: Bahwa sekalipun kita adalah Mindedyang menganggap bahwa profit adalah satu-satunya tujuan bisnis, namun janganlah lupa, bahwa kita harus mencapainya secara tepat manfaat dan etis -yakni dengan menciptakan dan mempertahankan pelanggan yang puas secara terus menerus-, agar bermanfaat secara berkesinambungan dan untuk kurun waktu yang panjang. Jika kita melupakan azas ini, dan melakukan bisnis dengan cara 'hit and run', maka sekalipun Anda mungkin mendapat profit, namun tidak bisa bersifat progresif -karena Anda harus terus menerus mencari tipu muslihat baru untuk menjerat mangsa baru- dan tentu saja hal itu melanggar norma dan dalam tahap tertentu bisa melanggar hukum. saya maksudkan ialah kemampuan dan kebiasaan Anda untuk secara terus menerus memikirkan cara menciptakan cara untuk membuat dan menyampaikan produk/jasa yang bisa memuaskan kebutuhan atau harapan pelanggan, sehingga Anda akan mendapatkan bukan hanya pelanggan lama melainkan juga pelanggan baru. Dengan demikian, bisnis Anda akan mampulaba dan mampu tumbuh secara progresifPerformance: “It's not a matter of what we're doing, but what we're producing!”, maksudnya ialah: Bahwa semua pemain bisnis Anda harus paham dan setuju bahwa mereka dibayar bukanlah semata-mata untuk melakukan pekerjaan atau suatu aktivitas, melainkan untuk mencapai hasil. contoh: Wiraniaga bukanlah dibayar untuk sekedar mengunjungi calon pelanggan (prospek) dengan jumlah kunjungan sekian banyak perhari dan melaporkannya kepada atasan, melainkan adalah membawa pulang pesanan penjualan! Saya tidak perduli berapa kunjungan yang wiraniaga lakukan setiap harinya, apakah 5 ataukah 50 prospek. Pertanyaan saya kepadanya ialah: “Berapa banyak pesanan yang Anda bawa pulang untuk perusahaan??!”Sedangkan pertanyaan saya kepada ialah, “Saya tidak perduli berapa ratus prospek yang Anda telpon dalam sehari, melainkan apa hasil pembicaraan telpon Anda bagi pencapaian sales!?”saya bertanya demikian? Karena menurut saya, apakah gunanya seorang wiraniaga berjerih lelah keliling kota mengunjungi toko atau pabrik atau kantor orang yang tidak prospektif, atau tidak potensial untuk membeli dengan nilai transaksi yang memadai? Untuk apa Anda membuang waktu, energi, dan opportunitydengan melakukan hal yang tidak tepat guna? Saya bukan hanya tidak iba melihat wiraniaga yang lelah membanting tulang melakukan aktivitas mubazir yang seperti itu, melainkan marah! Saya akan menegur dan memarahi bukan hanya wiraniaga itu, melainkan juga supervisornya, managernya dan pimpinan perusahaannya, karena sebagai atasan mereka tidak sanggup mendidik dan memastikan efektivitas kegiatan anak buahnya! bagi para manager/eksekutif kriteria penilaian dan kompensasi kinerja juga sama, yakni apa hasil atas aktivitas dan kepemimpinan mereka. Saya tidak terhadap berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk bekerja, atau berapa keras mereka telah melakukan ini dan itu. Jika mereka tidak berprestasi, dan tidak bisa mencapai target dan komitmen yang telah disepakati, maka artinya saya telah membayar mereka terlalu mahal! Dan adalah tepat manfaat jika saya minta mereka 'mengangkat koper' dan hengkang dari perusahaan saya!yang sama juga untuk program periklanan dan promosi; saya tidak perduli berapa hebat reputasi biro iklannya, dan juga tidak bangga sekalipun iklan saya mendapat penghargaan sebagai iklan terbaik; jika iklan itu tidak bisa meningkatkan omzet penjualan produk saya, maka semua kehebatan dan keindahan itu menjadi sia-sia, !nothing!kinerja adalah substansi -nafas hidup, dan darah-, yang memungkinkan bisnis tetap hidup, tetap mampulaba dan mamputumbuh didalam segala situasi; sedangkan karakteristik lainnya hanyalah sebagai ornamen, pelengkap. saya, karyawan yang ideal dan terbaik serta kandidat sukses yang layak mendapat imbal balas yang besar ialah jika ia berkepribadian menarik, setia dan jujur, serta berprestasi. Namun jika karyawan hanya berkepribadian baik, tetapi tidak berprestasi, dalam keadaan krisis, ia akan terpaksa disingkirkan untuk mengurangi biaya. Apalagi jika karyawan berkepribadian buruk serta tidak berprestasi, maka keberadaannya hanya menjadi parasit, bakteri, atau kutu rambut, yang harus secepatnya dienyahkan.
minta maaf jika terpaksa saya menulis dengan kata-kata yang pedas dalam sub-topik ini; bukan karena saya kejam atau kasar, melainkan karena saya beritikad baik ingin mentransfer emosi saya yang membenci Sungguh saudaraku, sikap mental marginal yang seperti inilah yang banyak menghambat kinerja bisnis, dan bahkan menghancurkannya. ratusan ribu perusahaan kita yang pernah berada ditangan BPPN, dan sekian ribu lagi yang telah, sedang dan akan mengalami kebangkrutan usaha, karena salah kelola.kedalamnya, maka sebelum perusahaannya roboh, Anda akan menemui pemain bisnis yang cinta quodan zone, yang merasa telah hebat dan berpengalaman sehingga tidak lagi mau belajar dan diajar; yang bangga dengan simbol-simbol dan mitos-mitos kekaryaan yang marginal dan jauh dari kompetensi, yang menganggap bahwa lamanya bekerja identik dengan pengalaman; bahwa bekerja adalah untuk mengabdi dan bukan untuk berprestasi; dan kelak -ketika perusahaan melakukan program untuk efisiensi- mereka heran, kecewa serta marah karena dipecat. “Mengapa perusahaan tega memecat saya yang telah setia mengabdi puluhan tahun?”adalah jeritan hati yang salah kaprah, yang melupakan esensi berbisnis dan bekerja.
itu, sebelum terlambat, dan sebelum lebih banyak lagi korban keluguan pemain bisnis dalam menyiasati kariernya, cara memprogram ulang pikiran bisnis ini saya ungkapkan. Sebab, jika anda tidak mencanangkan esensi Manajemen Meritokratis seperti diatas, adalah nyaris mustahil mencapai peningkatkan kinerja yang adekuat. tahu betul bahwa telah banyak dan telah lama perusahaan mencoba menerapkan berbagai jurus manajemen yang bagus dan hebat -bahkan dengan menggunakan jasa konsultan berkaliber internasional-, namun mereka hanya sanggup sampai taraf mengumpulkan fakta, dan membuat manual program aksi. Selanjutnya, hasilnya bantut, seperti membuat roti tanpa ragi.bisnis yang berpengalaman paham betul tentang apa yang saya maksudkan bahwa, yang sukar itu bukanlah membuat program aksi atau rencana kerja, atau komitmen untuk memperbaiki kinerja bisnis, !Yang sukar ialah memastikan bahwa semua itu dilaksanakan dengan benar dan terus menerus sampai berhasil.banyak kasus, kita seringkali hanya bisa memulai, namun tidak bisa mencapai garis finish. Alasannya bermacam-macam. Ada yang karena kendala budaya organisasi, atau kendala kompetensi karyawan, atau kendala inkonsistensi manajemen puncak, dsb, dst, dll, kalau kita telusuri, akar persoalan (kausa prima) setiap kinerja bisnis ialah pada PEMAIN BISNISNYA, yang tidak kondusif terhadap pencapaian prestasi yang cepat. Mereka takut berubah, dan mereka tidak mau berubah! Itulah sebenarnya esensi realita yang sesungguhnya, namun yang diselubungi dengan berbagai macam dalih dan kata-kata indah.bisnis yang kinerjanya sudah kritis, pilihannya hanya satu: REVOLUSI ATAU MATI!Anda tidak mau mati (bangkrut), maka Anda harus melakukan revolusi pada mindset pemain bisnis perusahaan Anda. Jika tidak, maka Anda akan menyusul ribuan perusahaan yang telah mendahului Anda diakuisisi oleh kreditur dan atau dilikuidasi karena sudah tidak bernilai lagi.
Sub-Menu: