Main menu:
SUCCESS ARTICLES
Dikutip dari buku “BUSINESS DOCTOR”, karya Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHT“Productive Leadership is not a matter of style, nor destiny, but attitude; That's why it can be drilled and created”(Johanes Lim)setiap sesi pelatihan atau konsultasi yang saya adakan untuk memperbaiki kinerja perusahaan client, saya selalu menekankan tentang vitalnya peranan pemimpin dan kepemimpinan, terhadap nasib (sukses atau gagalnya) perusahaan.adalah barometer kinerja perusahaan: Perusahaan yang manajemen dan kinerjanya buruk, pastilah disebabkan karena kualitas pemimpinnya buruk; demikian juga sebaliknya, perusahaan yang mampu laba dan mampu tumbuh secara berkesinambungan, pastilah disebabkan karena kepemimpinan yang baik!bisnis bisa diibaratkan seperti nahkoda kapal; apakah kapalnya akan mencapai pelabuhan tujuan ataukah akan tenggelam menabrak karang, hal itu tergantung pertama-tama dari kapasitas nahkodanya.sang nahkoda tidak memberikan visi, pengarahan, dan motivasi yang jelas tentang pelabuhan tujuan pelayaran, maka semua awak kapal tidak akan bisa bekerja secara efektif dan efisien. Coba bayangkan, apa jadinya jika nahkoda kapal memberikan instruksi kepada (atau menjawab pertanyaan) awak kapalnya, "Terus saja berlayar menuju utara, jangan banyak tanya!" Pemimpin bisnis yang tidak kompeten, yang tidak menerapkan kepemimpinan yang motivational, sudah dapat dipastikan tidak akan bisa membawa 'awak perusahaannya' untuk mencapai tujuan perusahaan, yakni kemampu labaan dan kemampu tumbuhan berkesinambungan.telah menyaksikan dan mempelajari begitu banyak jenis pemimpin perusahaan di Indonesia, yang belum memenuhi kriteria sebagai pemimpin yang baik, apalagi yang Meritokratis!dari koordinator kelompok, supervisor, manager, direktur, sampai kepemilik perusahaan, mereka mempunyai kemiripan cacat ditempat yang nyaris sama, seperti: paling superior, merasa paling pintar, merasa paling benar; pikir mereka, "Jika Anda lebih pintar dari saya, tentunya saya yang akan menjadi bawahan dan bukan Anda!"anti kritik, alergi menerima saran bawahan; paling hebat mereka berdiplomasi, dengan mengatakan bahwa saran bawahan akan ditampung dan dipelajari, padahal hanya 'masuk kuping kiri, keluar kuping kanan!' Mereka hanya senang dipuji, dan hanya senang mendengar 'good news'sekalipun tidak faktual; hal itu mengakibatkan menjamurnya 'yes-men'didalam perusahaan, yakni orang orang yang memanipulasi fakta buruk dengan omong kosong utopis.'kambing hitam' (melempar kesalahan) jika terjadi kesalahan atau kegagalan, dengan mengorbankan bawahannyamau terus belajar, karena merasa sudah pintarkata, jika model pemimpin dan kepemimpinan seperti diatas tidak dienyahkan dari sentra kekuasaan, tidak akan ada gunanya segala macam pelatihan dan program motivasi, serta konsultasi oleh pakar kelas dunia sekalipun. Menurut saya, "Anak buah buruk itu tidak ada, yang ada adalah pemimpin yang jelek!"Sebab, jika ia adalah pemimpin yang baik, ia wajib tahu tentang kinerja semua anak buahnya (baik langsung maupun berdasarkan laporan), yang jika buruk harus diperbaiki, dan jika tidak mungkin diperbaiki, harus dienyahkan!anak buah yang buruk terus bercokol dalam perusahaan tanpa ada orang yang perduli, adalah pertanda bahwa, pemimpin disana tidak tahu situasi-kondisi perusahaannya sendiri, dan atau tidak tahu harus berbuat apa atas hal yang diketahuinya, atau ia malu untuk bertindak karena ia sendiri juga buruk; yang manapun yang menjadi alasan, sudah cukup untuk mengganti pemimpin model itu.pertama yang harus diambil untuk memperbaiki perusahaan yang salah pimpin, adalah, mengganti pemimpinnya. Itulah yang paling sering dilakukan oleh pemegang saham, dimanapun juga. Memang benar, "Jika hendak membunuh ular, penggal kepalanya, dan bukan ekornya!" Dibawah ini saya sampaikan beberapa akibat dari kepemimpinan yang buruk, yang saya kumpulkan selama karier profesional saya sebagai konsultan dan pelatih manajemen bisnis:Karyawan yang pendiam dan pasifkaryawan 'yesman'Departementalisme, klik-klikan, ada 'anak emas' dan 'anak tembaga'pekerjaan yang panjang dan bertele-tele, yang mengacu kepada tugas dan bukan hasilyang kakuyang terlalu formal, tidak hangatkerja rendah, timbulnya 'absenteeism',dan tingginya turnover karyawan, dan karyawan menjadi 'amano oriented'Sering terjadi kesalahan dan pengulangan kerja yang memboroskan waktu dan uangterlalu perduli terhadap kualitas dan kepuasan pelanggan, bahkan ada yang melakukan sabotase yang merugikan perusahaanada komentar atau saran atau keluhan dari pelanggan, karena pelanggan tahu tidak akan diacuhkanyang sensitif, mudah tersinggung dan marah, karena tidak dianggap sebagaiPerusahaan sedang 'karam' tanpa ada yang menyadarinyaitu, syarat sukses menerapkan Manajemen Meritokratis, pertama tama adalah menerapkan Leadership, dengan kriteria sebagai berikut:harus menetapkan dan mengkomunikasikan tujuan, agar semua orang dalam perusahaannya mengerti tentang tujuan dan harapan perusahaan -secara kualitatif dan kuantitatif-, hendak kemana, kapan, bagaimana, siapa saja yang turut serta, dan mengapa demikian; serta bahu membahu untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Jika pemimpin tidak memastikan agar semua karyawannya memahami, sepakat dan kompeten dengan visi dan program pencapaian tujuan perusahaan, maka sumber daya dan upaya perusahaan bisa dihamburkan ketempat yang salah, yang mengakibatkan kinerja bisnis yang buruk dan inefisien. Seperti ada tertulis, "Where there is no vision, the people perish"Memimpin dengan teladan. Agar diingat bahwa karyawan mendengar kata-kata, namun mencontoh perbuatan. Tidak perduli berapa bagus pidato dan himbauan Anda kepada karyawan, jika Anda sendiri tidak melakukan apa yang Anda perkatakan, tidak ada gunanya. Jika Anda ingin karyawan Anda disiplin, mulailah dengan diri Anda sendiri. Jika Anda inginkan karyawan jujur, mulailah dari diri Anda sendiri. Jika mereka telah melihat konsistensi perbuatan Anda, barulah mereka akan tergerak untuk bertindak. Pemimpin yang NATO (action talk only), identik dengan pemimpin yang munafik, yang tidak patut dipercayadiri secara terus menerus, melalui proses belajar yang berkesinambungan, karena menyadari bahwa 'Life is a continuous learning process', sehingga kompetensinya terus meningkat; dengan demikian pemimpin akan lebih percaya diri, dan bawahanpun akan lebih percaya kepadanya sebagai orang yang kompeten.sangat menekankan prilaku pembelajar bagi setiap orang -termasuk pemimpin dan bahkan ownerperusahaan besar sekalipun-, bukan semata-mata untuk kepentingan pemimpin bersangkutan, melainkan juga untuk kinerja bisnis secara keseluruhan; sebab, jika pemimpin enggan belajar -apalagi jika anti belajar, karena sudah merasa hebat-, maka ia akan ketinggalan jaman. Buah pikiran dan prilakunya hanya mengacu kepada kesuksesan masa silam; sehingga jika ada bawahan yang progresif dan berwawasan modern mengajukan saran atau program perbaikan kinerja, akan sulit dicerna oleh pikiran pimpinan yang tradisional, serta dianggap tidak berguna. jelas, karyawan yang bagus akan demotivasi, apatis, atau hengkang keperusahaan lain yang lebih kondusif; sedangkan yang tersisa adalah karyawan yang mempunyai karakteristik dan kemampuan yang lebih rendah dari pimpinannya. tanpa menekan, tanpa 'menggebrak meja' dan atau tanpa 'memilin kumis', melainkan berfungsi sebagai pelatih, pengayom, namun tegas. Semua karyawan paham bahwa, jika orang bersalah atau lemah, akan diberikan bimbingan dan pendidikan, terlebih dahulu, agar kemampuan dan motivasinya meningkat. Namun jika mereka tidak berubah setelah dibina berulang kali, maka konsekwensinya adalah mereka akan di..bina..sakan (di PHK), tanpa emosi, dan tanpa dicaci maki, seperti lirik sebuah lagu, "killing me softly.."setiap karyawan berdasarkan hasil kerja faktualnya, dan bukan berdasarkan prasangka atau 'like or dislike' Ia bersifat netral, dan obyektif, jauh dari prilaku diskriminatif, serta paham membedakan hal yang bersifat pribadi, dan profesi.sebagai manusia kita tidak terlepas dari perasaan suka dan tidak suka berkenaan dengan hubungan antar pribadi, namun pemimpin yang Meritokratis menyadari bahwa ia harus memisahkan antara perasaan pribadi dengan profesionalisme; sekalipun ada karyawan atau bawahan yang secara pribadi tidak disukainya, namun selama hasil kerjanya memuaskan -apalagi berprestasi-, ia wajib memberikan appresiasi dan kompensasi kinerja yang lebih baikjuga sebaliknya, sekalipun ada bawahan atau karyawannya yang secara pribadi sangat menyenangkannya -karena penurut dan 'penjilat'-, namun jika hasil kerjanya buruk, maka ia wajib menegur dan membinanya; dan jika tidak tertolong, harus dienyahkan, agar tidak merusak suasana kerjamembangun kepercayaan, dan selalu mengupayakan agar kepercayaan karyawannya terus bertambah kepadanya dengan berprilaku konsisten dan konsekwen atas setiap komitmen yang berlaku. Ia berprinsip, "Sekali kata terucap, pantang ditarik kembali",sehingga karyawannya yakin bahwa, perkataan pemimpinnya sama otentiknya dengan pernyataan diatas meterai yang sering diingkari oleh pimpinan adalah yang berkenaan dengan janji uang, apakah tentang komisi, bonus, sharing, kenaikan gaji, pemberian fasilitas, promosi karier, dan sejenisnya. Pemimpin yang tidak Meritokratis, yang tidak berpikiran strategis, serta kurang perduli terhadap nama baik dan kredibilitas, sering mengingkari janji yang pernah dilontarkannya kepada karyawan, dan meralatnya dengan berbagai macam alasanperlu mengingatkan bahwa prilaku seperti itu bukan hanya merugikan karyawan yang diperdaya, melainkan juga diri pemimpin itu sendiri serta perusahaannya; karena begitu karyawan kehilangan kepercayaan terhadap pemimpinnya, maka apapun yang dijanjikan oleh atasannya tidak lagi memotivasinya untuk bertindak, sehingga program kerja perusahaan akan terlantar. Karyawan bekerja hanyalah untuk sekedar mencari nafkah, tidak lagi untuk kemajuan perusahaan mengharapkan kritik dari semua orang yang bekerjasama dengannya, baik dari atasan, kolega, maupun bawahan. Ia bukan hanya menghimbau (apalagi basa-basi), melainkan berlaku pro-aktif dan memberanikan karyawan untuk memberikan kritikan konstruktif, dengan mengatakan, "Kritikan adalah ibarat cermin, tempat kita dapat melihat diri kita secara tepat; karena itu, jika ada hal yang perlu saya ketahui, apakah itu tentang kesalahan atau kelemahan kebijakan saya, atau prilaku saya, mohon saya diberitahu. Bukan hanya saya tidak tersinggung, bahkan orang yang memberikannya akan sangat saya hargai, karena ia mengasihi saya, dan tidak menginginkan saya dicemooh orang dibelakang saya!"terdengar terlalu idealis dan puitis, namun jika Anda terapkan, pasti segera menghasilkan berbagai hal yang positif terhadap kepemimpinan dan kinerja bisnis Anda; karena pada umumnya, pemimpin itu alergi terhadap kritikan, apalagi yang disampaikan oleh bawahanmencegah karyawan mengeritik kebijakan atau prilakunya, biasanya pemimpin bersikap 'angker', dan tidak toleran. Ia akan menginterupsi setiap masukan bawahannya jika sudah mulai menjurus kearah kritikan. Ada peserta saya yang menceritakan kepada saya bahwa pimpinannya selalu menyela, “Sudah tahu, sudah tahu. Saya sudah tahu apa yang akan Anda sampaikan, oke!?”, jika ada bawahan yang mencoba memberikan masukan kepadanya, sekalipun kalimatnya belum selesai diucapkanpeserta pelatihan saya enggan memberikan masukan apalagi kritikan kepada perusahaan atau atasannya, karena dua hal: Satu, apatis. Mereka tidak percaya kalau masukan mereka akan didengar oleh atasan, karena selama ini semua masukan karyawan dianggap angin lalu belaka. Kedua, takut. Mereka takut berbicara terbuka, karena takut disentimeni oleh atasan mereka. Salah salah bisa dipecat! ; karena dua hal itu, karyawan memilih bungkam dan acuh tak acuh terhadap permintaan kesan dan saran, karena menurut mereka ada resiko rugi dan tidak ada peluang untung; jika demikian halnya, jika pemimpin tidak lagi mendapat umpan balik yang jujur dari bawahan tentang realita bisnis yang terjadi dilapangan sehari-hari, lantas apakah mengherankan jika pemimpin merancang dan menerapkan strategi atau kebijakan yang salah dan membahayakan kelangsungan bisnisnya?antisipatif. Ia mau dan mampu memikirkan ulang tentang asumsi asumsinya terhadap diri sendiri, masa depan, dan trend perkembangan bisnis yang digelutinya; sehingga ia bisa merancang strategi antisipatif, agar masa depan tidak terjadi dengan begitu saja; sekurang kurangnya, ia tidak ingin menjadi obyek perubahan, melainkan sebagai subyekakan berpikir seperti pemenang, yakni memiliki sikap mental dan prilaku yang terus menerus berjuang untuk merealisir mimpi mimpi besarnya. Ia akan terus mencoba hal hal baru, bereksperimen, dan bangkit kembali sekalipun terjatuh dan gagal, sampai harapannya menjadi kenyataan. Dan setelah itu, ia tidak berpuas diri, melainkan mentargetkan lagi dirinya dengan obsesi yang lebih tinggi, bukan semata-mata demi imbalan, melainkan agar dirinya bisa senantiasa berjuang dan berkembang; karena ia menyadari, begitu ia berhenti berjuang, maka ia akan berhenti menjadi pemenang,“Where there's no battle, there's no victory; where there'is no war, there's no hero!”(Johanes Lim) Anda yang sekarang menjadi pemimpin, saya perlu menyampaikan bahwa, akan banyak orang atau bawahan yang berusaha mencari muka dan 'mengangkat telor' Anda; bahkan ada diantara mereka yang berupaya mempengaruhi pikiran dan kebijakan Anda melalui saran-saran yang menguntungkan mereka; termasuk diantaranya untuk menggusur atau memecat lawan-lawan mereka.manusia, Anda akan menyukai prilaku dan perkataan mereka yang selalu pro kepada Anda, dan mendukung keputusan Anda. Mereka tidak pernah membantah. Mereka terkesan setia dan taat.saya peringatkan, WASPADALAH terhadap orang-orang dengan prilaku seperti itu, karena itu MEMBAHAYAKAN ANDA!tidak ada orang yang memberikan pandangan yang kritis terhadap kebijakan dan prilaku Anda, maka Anda ibarat mengendarai mobil tanpa rem.karyawan yang kritis, yang berani mengemukakan pendapatnya yang berbeda dengan Anda, bahkan yang berani memberi kritikan konstruktif, adalah karyawan yang sejati, yang positif, dan yang berguna.ia perduli terhadap nasib perusahaan dan atasannya, makanya ia memberikan masukan, sekalipun terdengar pahit.tidak takut bersuara, karena ia punya itikad baik dan kompetensi. Keyakinannya akan tujuan baik, membuatnya berani mengungkapkan kebenaran. Dan kepercayaan dirinya akan kompetensi dirinya juga tidak membuatnya gentar, andaikan karena itikad baiknya dia akan dibenci atau dipecat, karena toh ia akan bisa mendapat pekerjaan lain.dengan 'yesmen'Karena mereka sebenarnya tidak mempunyai kompetensi teknis, mereka mengandalkan mulut manis untuk dan meniti karier. Dia/mereka tidak perduli apakah keputusan atau prilaku Anda itu benar atau salah, berguna atau mencelakakan; yang penting bagi 'yesmen'adalah menyenangkan Anda. Jika Anda senang akan keputusan “A”, maka ia/mereka akan mendukungnya. Jika kelak Anda berubah pikiran dan lebih senang dengan keputusan “B”, maka merekapun akan serta merta mendukung perubahan itu. Ibaratnya, mereka itu adalah seperti bunglon.lagi jika Anda kelak berada dalam situasi sulit, misalnya bangkrut. Orang yang pertama kali pergi meninggalkan Anda adalah para 'yesmen'itu! Bahkan orang yang pertama kali menyalahkan dan menghina Anda, adalah mereka, jika Anda telah berada dalam posisi lemah atau payah!telah menyelidiki bahwa 'yesmen'itu punya tendensi berprilaku buruk, seperti misalnya, menekan bawahan, memanipulasi fakta, dan berkhianat!, betapa berbahayanya keadaan Anda jika dikelilingi oleh orang orang semacam itu!Business Doctor, Anda seyogyanya menjadi pribadi yang Meritokratis, yang seimbang, yang mencari masukan dari anak buah yang penurut maupun yang kritis, serta tidak mengevaluasi kinerja berdasarkan 'like and dislike'dan kepemimpinan yang Meritokratis, akan memotivasi bawahan secara efektif, cepat, dan mudah, untuk mengikuti jejaknya, dan berprestasi.
RADICAL RESULTS IMPROVEMENT | ABOUT JOHANES LIM | SUCCESS ARTICLES | Site Map
Sub-Menu: